Senin, 03 Januari 2011

HORMON TESTOSTERON


A.     Definisi Hormon Testosteron
Testosteron adalah hormon steroid dari kelompok androgen. Penghasil utamanya adalah testis pada pria dan ovarium pada wanita. Baik bagi Pria maupun wanita, testosteron memiliki peranan penting pada kesehatan.
Hormon Testosteron ini juga diproduksi oleh ovarium tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit. Hormon ini dibutuhkan oleh wanita karena berhubungan dengan daya tahan tubuh dan libido (gairah seksual).
Riset membuktikan bahwa hormon testosteron dalam jumlah yang normal sangat penting untuk mengurangi resiko diabetes dan penyakit kardiovaskular. Selain itu, pria yang memiliki kadar hormon testosteronnya normal lebih panjang umur dari pria yang memiliki kadar hormon testosteron yang lebih rendah.
Kadar testosteron yang normal adalah sekitar 12 nmol/L sampai 40 nmol/L. Kondisi kadar testosteron dibawah jumlah normal disebut Testosterone Deficiency Syndrome (TDS ).

B.     Fungsi Hormon Testosteron
Pria lebih merasa jantan dan perkasa jika bisa memuaskan pasangannya secara seksual dan memberinya keturunan, bahkan tak jarang banyak yang menganggap dirinya bukan lelaki tulen tanpa kedua kemampuan itu.
Sebenarnya rahasia dari keperkasaan tersebut terletak pada testosteron. Testosteron penting bagi perkembangan seorang anak lelaki menjadi pria dewasa selama masa pubertas dan diperlukan untuk kinerja fisik, mental dan seksual seorang pria.
Selama ini testosterone yang diproduksi dalam testis lebih dikenal sebagai hormon seks padahal selain aktivitas seksual, testosteron memiliki banyak fungsi lain yang penting untuk kesehatan sesuai dengan perkembangan tubuh sejak masa pubertas.
Berikut beberapa fungsi progesteron selama masa pubertas :
-         Testosteron menyebabkan pecahnya suara
-         Bertanggung jawab terhadap pembentukan rambut, janggut dan kumis
-         Membentuk dan memelihara struktur tulang
-         Membantu pembentukan sel-sel darah merah
-         Membentuk dan memelihara otot-otot
-         Mempetahankan daya ingat, konsentrasi, keseimbangan mental, dan mempengaruhi mood
-         Penentu bentuk tubuh pria.
-         Pengatur hasrat dan fungsi seksual
-         Menjaga sistem imun, energi, dan perlindungan dari osteoporosis

C.     Sumber Hormon Testosteron
a)      Wortel
Sebagai sayuran kaya nutrisi juga beta karoten, wortel mampu mencegah penimbunan gula darah dan lemak yang merupakan salah satu penyebab impotensi. Senyawa porfirin yang terkandung dalam wortel mampu mendorong kelenjar pituitari agar menaikkan kadar hormon testosteron.
b)      Daun Katuk
Daun katuk terbukti berkhasiat menambah kesuburan serta menambah kwalitas dan jumlah sperma. Tujuh senyawa aktif yang terkandung dalamdaun katuk dapat merangsang sintesis hormon-hormon steroid.
c)      Tomat 
Kulit dan buahnya yang merah merupakan indicator tingginya kadar likopen yang merupakan antioksidan alami. Likopen juga berfungsi meningkatkan mobilitas sperma.


d)      Semangka
Mengandung salah satu komponen karotenoid yakni likopen. Selain sebagai anti penuaan dini dan antikanker, kadar likopen pada semangka mampu memperbaiki kesuburan. 1 buah semangka mengandung 100mg likopen.
e)      Jambu biji
Likopen yang terdapat didalam jambu biji berkhasiat menyuburkan sistem reproduksi pria dan mampu meningkatkan vitalitas. Dalam tiap 1 buah jambu biji terkandung 80mg likopen.
f)        Daun kemangi
Daya tahan hidup sperma penting agar proses pembuahan ovum berhasil. Daun kemangi senyawa arginin yang memperkuat daya tahan hidup sperma, mencegah kemandulan dan menurunkan gula darah.

D.    Defisiensi Testosteron
  1. Kadar testosteron
Kadanr testosteron bervariasi pada tiap pria, tetapi rentang normal tertosteronadalah antara 12 dan 35 nmol/L. Kadar terstosteron dibawah 12 nmol/L menandakan adanya gejala kekurangan testosteron (Hipogonadisme).
Menurut keterangan Prof. Louis Goorenp, penulis 'Textbook of Men's Health' yang dilansir dari situs kesehatan mayoclinic.com, mengatakan berkurangnya testosteron terjadi saat testis tak lagi berproduksi dalam jumlah memadai, yaitu sekitar 5-7 mg testosteron perhari.
  1. Efek Hipogonadisme
Hipogonadisme bisa bersifat kongenital atau berhubungan dengan fungsi kelenjar hipotalamus pituitari pada otak, pertambahan usia, atau menderita penyakit. Hipogonadisme menyebabkan berkurangnya kepadatan mineral tulang yang bisa mengakibatkan osteoporosis dan hilangnya massa otot yang otomatis menyebabkan fisik melemah.
Sementara menurut endokrinolog dari Vrije University Medical Center Amsterdam Belanda, efek hipogonadisme secara umum dapat menyebabkan keadaan sebagai berikut :
-   Hilangnya gairah seksual
-   Terjadi disfungsi ereksi
-   Penyusutan massa otot
-   Lemak tubuh meningkat
-   Mudah marah dan depresi
-   Anemia
-   Osteoporosis
-   Terganggunya produksi sperma
-   Kulit menjadi kering dan kasar
-   Postur tubuh yang kurang tegap
-   Berkurangnya kemampuan atletik.


Efek hipogonadisme juga dapat dibagi berdasarkan waktu, yaitu :
a.       Sebelum masa pubertas : secara umum dapat mengakibatkan tanda-tanda kedewasaan seksual akan menurun, bahkan tidak muncul meski tinggi badan tetap naik dan suara berubah.
b.      Setelah masa pubertas (karena faktor genetik atau penyakit) gejala yang mungkin timbul berupa :
-         Gangguan tidur
-         Kelelahan kronis dan lesu
-         Mudah tersinggung
-         Nafsu seksual hilang
-         Mudah tegang
-         Rasa panas di sekitar dada dan leher serta terus berkeringat
-         Disfungsi seksual
Hormon testosteron sejatinya akan menurun seiring bertambahnya usia. Penurunan level testosteron ini biasanya ditandai dengan beberapa gejala yang mirip dengan gejala akibat proses penuaan.
Prof Wimpie membagi gejala yang timbul jika seseorang mengalami penurunan kadar testosteron sesuai jenis kelamin, yaitu:
    1. Pada perempuan
-         Motivasi seksual yang menurun.
-         Penurunan lubrikasi vagina dan juga fantasi seksnya.
-         Kepadatan tulang dan massa otot yang berkurang.
-         Frekuensi insomnia yang meningkat.
-         Sering mengalami sakit kepala tanpa sebab.
    1. Pada laki-laki
-         Komposisi tubuh yang berubah terutama meningkatnya lemak di perut.
-         Rambut yang mulai berkurang.
-         Fungsi seksual yang menurun.
-         Gangguan tidur dan suasana hati.
-         Penurunan rasa kenyamanan seperti lelah, depresi, bingung dan berkeringat di malam hari.

  1. Penyebab rendahnya kadar testosteron
a)      Umur
Tingkat testosteron dalam darah lambat laun mulai berkurang seiring usia. Biasanya dimulai antara 35 sampai 45 tahun yaitu pada fase andropause.
b)      Cedera pada testis
Testis rentan terhadap cedera. Karena fungsi testis sebagai tempat produksi testosteron, maka cedera pada kedua testis dapat mengurangi produksi testosteron
c)      Infeksi pada testis
 Jika terjadi infeksi pada testis selama masa remaja atau dewasa dapat mempengaruhi produksi testosteron.


d)      Kanker
 Pengobatan untuk kanker seperti kemoterapi atau terapi radiasi dapat menyebabkan penurunan kadar testosteron. Bila terkena efek dari terapi ini secara terus menerus dapat mengakibatkan disfungsi hormon testosterone secara permanent.
e)      Penyakit
Terkait penyakit ginjal kronis, sirosis hati, sarkoidosis, dll. penyakit kronis juga dapat menyebabkan kadar testosteron rendah.

E.     Diagnosis  Hipogonadisme
Untuk mendiagnosis penurunan testosteron ini didasarkan pada gejala yang muncul, pemeriksaan fisik dan juga pemeriksaan laboratorium. Pada laki-laki biasanya melakukan Aging Males Symptom (AMS) scale, sedangkan pada perempuan hanya berdasarkan gejala dan pemeriksaan laboratorium.
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami defisiensi testosteron atau tidak, bisa dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan berikut ini :
1.      Apakah libido dan dorongan seksual menurun akhir-akhir ini?
2.      Apakah merasa lemas dan kurang bertenaga?
3.      Apakah daya tahan dan kekuatan fisik menurun?
4.      Apakah tinggi badan berkurang?
5.      Apakah merasa kenikmatan hidup mulai menurun?
6.      Apakah sering merasa kesal atau mudah marah?
7.      Apakah kekuatan ereksi kurang kuat?
8.      Apakah merasakan penurunan kemampuan dalam berolahraga?
9.      Apakah sering mengantuk dan tertidur setelah makan malam?
10.  Apakah merasakan adanya perubahan atau penurunan prestasi kerja?

Jika jawaban no 1 dan 7 adalah 'ya' atau ada 3 jawaban yang 'ya' selain pada no tersebut, kemungkinan kadar testosteronnya menurun. Tapi hal ini harus dicek kembali dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium.

F.      Penanganan Hipogonadisme
Untuk mengatasi hal ini bisa dilakukan dengan cara melakukan Testosteron Replacement Theraphy, yaitu sejenis terapi dengan cara memberikan hormon testosteron yang fungsinya sama dengan testosteron alami didalam tubuh.
Terapi testosteron ini ada dalam bentuk pil atau gel (short acting) dan melalui injeksi (long acting). Untuk perempuan biasanya hanya menggunakan terapi yang bersifat short acting dan dosisnya hanya sepertiga atau seperempat dari dosis untuk laki-laki.
Pengobatan ini berlangsung jangka panjang, sehingga harus terus dimonitor agar bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Diperlukan monitoring setiap 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan untuk melihat hasil serta ada tidaknya efek samping terapi.
Berdasarkan penelitian di Departemen Andrologi dan Seksologi Universitas Udayana ditunjukkan bahwa terapi testosteron ini dapat meningkatkan jumlah pembuluh darah dan merangsang jaringan fibrovasculer. Jadi perawatan terapi testosteron ini tidak hanya meningkatkan fungsi seksual, tapi juga semua aspek yang berperan dalam meningkatkan kualitas hidup.



DAFTAR PUSTAKA


Delay Ty. 1971. Hormone Theraphy. London; Butterwooths.
Benson Ra. 2003. Diagnostic Hormone deficience. Lange Medical publication;
      Maruzen Asia 








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar terkait dengan artikel (kesehatan), diharap jangan melakukan spam.